Informasi NCC

Space Iklan

Inspirasi

  • Suraban, Bertaruh Nyawa Demi Pendidikan di Papua

    Suraban, Bertaruh Nyawa Demi Pendidikan di Papua

      Kamis, 03/09/2015 14:34

     
    Negara Indonesia dengan ribuan pulau di dalamnya menjadikannya susah dalam perataan pendidikan masyarakat, salah satunya adalah kepulauan Papua. Wilayah Papua yang diketahui sebagian besar merupakan wilayah pegunungan dan perbukitan membuatnya tertinggal dalam hal pendidikan. Oleh karena itu pemerintah terus berupaya untuk membuat program guna meratakan pendidikan di wilayah tersebut. Salah satu programa yang dibuat adalah program SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Tertinggal, Terluar dan Terdalam). Adalah Suraban, seorang sarjana pendidikan dari Progam Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menjadi salah satu orang yang mengikuti program tersebut. Suraban ditugaskan untuk mengajar di SD Negeri Satu Atap Kotaip, Oklip yang berada di distrik Oklip Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. 
     
    Sarjana kelahiran Turi, Sidorejo, Ponjong, Gunung Kidul Yogyakarta ini ditugaskan untuk mengajar. Menurutnya ada banyak hal yang berat harus dilaluinya untuk menuju ke tempat dimana ia ditugaskan. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri baginya. Ia menuturkan bahwa untuk menuju  daerah terpencil ini sangat menguras tenaga dan tidak mudah. Untuk menuju ke distrik Oklip ia harus menempuh jalur udara, karena daerah ini merupakan daerah pegunungan dan tidak mungkin untuk ditempuh melalui jalur darat. Bahkan ketika pesawat kecil jenis AMA yang ditumpanginya menuju ke distrik Oklip dari Sentani sempat tertunda karena adanya angin kencang. Dalam perjalanan udara pesawat yang ditumpanginya sempat akan menabrak gunung karena tebalnya kabut yang menyelimuti pegunungan. Ternyata pesawat tersebut tidak langsung menuju ke distrik Oklip sehingga ia bersama rekannya harus jalan kaki selama 4 jam dengan medan yang terjal dan susah.
     
    Sampai pada SD Negeri Satu Atap Kotaip, pemuda usia 25 tahun ini mengatakan kalau dalam segi bangunan sekolahan ini sudah termasuk baik dan layak. Namun sekolahan ini sangat minim tenaga pengajar. SD ini hanya memiliki 3 orang pengajar dan dua diantaranya jarang berangkat sehingga hanya ada satu orang pengajar sekaligus kepala sekolahnya yang selalu berangkat setiap hari. Sedangkan anak-anak yang belajar di sekolah ini menempuh waktu 2-3 jam dari tempat tinggalnya. Pengetahuan anak di sekolah ini masih sangat meprihatinkan pasalnya masih banyak anak usia SMP yang belum bisa membaca dan menulis.
     
    Salah satu kendala yang dialami oleh Suraban adalah akes komunikasi. Ia hanya dapat sinyal ketika ia turun ke daerah Papua bagian kota. Selain itu, ketika ia berada disana belum ada listrik dan hanya sedikit warga yang menggunakan panel surya. Fasilitas pendidikan juga masih minim seperti buku ajar dan buku bacaan bagi para siswa. Namun, semua kesulitan itu ia lalui dengan semangat dan harapan yang tinggi guna mencerdaskan anak bangsa dalam mengetaskan dari ketertinggalan
     


Informasi Terpopuler